Rabu, 01 Januari 2014

Pemberdayaan Internet E-Learning untuk Pembelajaran

TUGAS 3 

Pemberdayaan Internet E-Learning untuk Pembelajaran






Disusun Oleh:
Siti Suryanti Q100 13 0002/1C MPD
Sebagai Tugas Individu Mata Kuliah Statistika dan Komputer
Dosen Pengampu Dr. Budi Murtiyasa



PASCA SARJANA MANAJEMEN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014


Pemberdayaan Internet E-Learning untuk Pembelajaran
Pengantar
Pandangan yang sudah berlangsung lama yang menempatkan pembelajaran sebagai proses transfer informasi atau transfer of knowledge dan guru kepada siswa semakin banyak mendapat kritikan. Penempatan  guru sebagai satu-satunya sumber informasi menempatkan siswa atau peserta didik tidak sebagai individu yang dinamis, akan tetapi lebih sebagai obyek yang pasif sehingga potensi¬-potensi keindividualannya tidak dapat berkembang secara optimal. Ketidaktepatan pandangaan ini juga semakin terasa jika dikaji dan pesatnya perkembangan arus informasi dan media komunikasi yang sangat memungkinkan siswa secara aktif mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan. Dalam keadaan ini guru hendaknya dapat memberikan dorongan dan arahan kepada siswa utuk mencari berbagai sumber yang dapat membantu peningkatan pengetahuan dan pemahaman mereka tentang aspek-aspek yang dipelajari. Karena sesuai dengan UUD 1945, pendidikan seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini berarti pendidikan adalah usaha untuk memberdayakan manusia. Manusia yang berdaya adalah manusia yang dapat berpikir kreatif, yang mandiri, dan yang dapat membangun dirinya dan masyarakatnya (Tilaar, 2000: 21).
Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat telah berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Perubahan dari era industri ke era informasi (global) ini hanya berlangsung dalam hitungan waktu tidak lebih dari setengah abad (Dryden dan Voss, 1999). Dengan berpindahnya era secara cepat ini, manusia dituntut untuk cepat menyesuaikan pula dengan kondisi sekarang ini, yaitu menjadi  masyarakat informasi.
Pemanfaatan teknologi informasi khususnya untuk bidang pendidikan dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya. Pemanfaatan teknologi informasi untuk pendidikan sudah menjadi keharusan demi menunjang kegiatan pendidikan yang menyesuaikan dengan zaman dan tercipanya suatu output yang berkualitas dan dapat bersaing. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut.
E-learning  untuk Pembelajaran
Salah satu aplikasi dari pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pendidikan yang langsung berkenaan dengan siswa adalah e-learningE-learning merupakan suatu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet. E -learning memiliki banyak penggunaan yang berharga . Ini telah memperluas arena pendidikan dari kelas Pengunjung terbatas pada dunia maya dan telah memperluas kesempatan pendidikan dari siswa untuk semua anggota masyarakat. Selain itu, e -learning mungkin pada akhirnya memberikan kontribusi untuk mengubah jalannya pendidikan dari transfer pengetahuan dan peningkatan untuk mempromosikan pemberdayaan. Penelitian ini menunjukkan kemungkinan bahwa e -learning akan mempengaruhi promosi pemberdayaan individu dan kolektif. Dalam arti luas, baik atribut e -learning dan tujuan mengambil kelas e -learning secara signifikan terkait dengan pemberdayaan individu, dan mengambil kelas e -learning dan preferensi kelas e -learning untuk kelas Pengunjung diidentifikasi sebagai prediktor signifikan pemberdayaan kolektif . Temuan ini bisa memberikan bukti bahwa mekanisme e -learning memberikan kontribusi terhadap promosi pemberdayaan individu dan kolektif .
Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:
  1. e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,
  2. pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar,
  3. memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.
Tantangan dan Peluang E-learning dalam Pembelajaran
Namun, bertentangan dengan harapan kita, baik modalitas aktivitas e -learning dan jenis kuliah e -learning tidak bisa dianggap prediktor signifikan dari pemberdayaan individu dan kolektif. Hanya jenis kuliah dari kelas e -learning dikaitkan dengan dimensi kompetensi pemberdayaan individu. Berbasis kelompok e -learning bukan individual self-paced e -learning bisa memberikan peserta dengan kesempatan yang lebih baik untuk secara kolektif diberdayakan, tapi itu tidak bermakna dikaitkan dengan pemberdayaan individu dan kolektif. Hasil ini mungkin berasal bukan dari ketersediaan berbagai modalitas dan jenis kuliah, tapi dari kurangnya vitalisasi modalitas ini dan jenis kuliah. Dengan kata lain, e -learning dengan cara yang interaktif antara peserta kelas serta antara dosen dan mahasiswa belum signifikan terkait dengan pemberdayaan, namun akan kemungkinan terkait dengan pemberdayaan bawah kondisi vitalisasi mereka .
Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk memberdayakan teknologi informasi untuk meningkatkan mutu pembelajaran, yaitu :
  1. Ketersediaan komputer dan internet yang dapat diakses dan dimanfaatkan oleh guru di kelas, lembaga pendidikan, maupun administrasi pendidikan.
  2. Materi harus berkualitas dan menyesuaikan perkembangan zaman namun tetap berpegang pada nilai kultural yang ada.
  3. Keterampilan dan pemahaman guru akan penguasaan terhadap teknologi informasi. Hal tersebut dapat diwujudkan misalnya dengan sosialisasi dan bimbingan tentang teknologi informasi kepada guru-guru.
Guru memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. Peran guru sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah peran-peran tertentu, karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah satu sumber informasi.
Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995), menyatakan bahwa di masa-masa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu guru sebagai: pelatih (coaches), guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak.. Sebagai konselor, guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Sebagai manajer pembelajaranguru memiliki kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa.
Beberapa contoh akan menggambarkan bentuk-bentuk baru dari partisipasi diaktifkan oleh perangkat lunak sosial. Pemuda sekarang terlibat dalam kepenulisan kreatif dengan mampu menghasilkan dan memanipulasi gambar digital dan klip video, tag mereka dengan kata kunci yang dipilih , dan membuat konten ini tersedia untuk teman-teman dan rekan-rekan mereka di seluruh dunia melalui Flickr , MySpace, andYouTube. Orang lain menulis blog dan menciptakan ruang wiki mana seperti hati individu mengomentari , berbagi dan menambah sumber-sumber ini , sehingga menciptakan sebuah genre baru yang dinamis , konten yang diterbitkan sendiri . Ini curahan informasi dan user-generated content digital antara rekan-rekan telah dijuluki " penerbitan pribadi " ( Downes, 2004) . Seperti mengapa orang terlibat dalam penciptaan dan produksi seperti , jawabannya mungkin terletak pada kemudahan penggunaan dan dorongan untuk terhubung dan berbagi , atau menurut Wu (2005, dikutip dalam Anderson , 2006) , " ia memiliki banyak yang harus dilakukan dengan keinginan individu untuk diperhatikan dan mendapatkan eksposur : " ... 'budaya eksposur ' mencerminkan filosofi Web, di mana mendapatkan perhatikan adalah segalanya " ( hal. 74 ) .
Hal ini sangat bertolak belakang dengan budaya kontrol pendidikan , di mana konten pra - dikemas dan silabus guru - dirancang mendominasi , sehingga menyangkal siswa pilihan dan otonomi dalam membentuk lintasan belajar mereka sendiri . Menurut Dron ( 2006) , pendekatan tersebut mengarah pada de-motivasi, kebosanan, dan kebingungan. Tantangan bagi pendidik adalah untuk memungkinkan - arah diri, membangun pengetahuan, dan pelajar kontrol dengan menyediakan pilihan dan pilihan sementara masih menyediakan struktur dan perancah yang diperlukan . Semakin banyak guru telah mulai menyaksikan secara langsung bagaimana perangkat lunak sosial menawarkan kemungkinan yang kaya bagi siswa untuk membuat dan berbagi ide, dan mengambil peran sebagai pencipta konten. Namun, dalam mengadvokasi bahwa siswa berperan aktif sebagai kontributor konten , isu apa konten harus memainkan peran dalam pengajaran pendidikan tinggi dan belajar perlu ditangani.
Sementara perangkat lunak sosial dan konten pelajar yang dihasilkan menawarkan prospek bermanfaat untuk memberdayakan peserta didik sesuai dengan metafora penciptaan pengetahuan pembelajaran, pendekatan heutagogical ( Hase & Kenyon, 2000) pendidikan seperti yang dianjurkan dalam artikel ini kemungkinan akan bertemu dengan cukup resistensi dan oposisi dari praktisi pendidikan dan peneliti. Misalnya, sebagai ungkapan berjalan, ini adalah era "mix, merobek, membakar, dan ada kekhawatiran bahwa "siswa ingin dapat mengambil konten dari orang lain. Mereka ingin mencampurnya, cara - untuk kreatif baru memproduksinya , untuk menerbitkannya , dan untuk mendistribusikannya" ( Hilton, (2006) dalam tulisan Mann Hyung Hur dan Yeonwook Im (2013)). Praktek-praktek seperti menimbulkan pertanyaan tentang pentingnya orisinalitas dari sudut pandang integritas akademik, dan menimbulkan kekhawatiran tentang hak cipta, kepemilikan, dan kekayaan intelektual dalam konteks baik belajar siswa dan penilaian melalui konten pelajar yang dihasilkan. Selain itu, dalam mengadopsi konten pelajar yang dihasilkan untuk dikonsumsi oleh siswa lain, ada kekhawatiran tentang validitas dan reliabilitas dari konten yang dihasilkan.

Daftar Rujukan
Anderson, C. (2006). The long tail: How endless choice is creating unlimited demand. London, England: Random House.
Downes, S. (2004). Educational Blogging. EDUCAUSE Review, 39(5), 14-26. Retrieved November 2, 2005, from http://www.educause.edu/ir/library/pdf/erm0450.pdf
Dron, J. (2006). Social software and the emergence of control. In Proceedings of the Sixth International Conference on Advanced Learning Technologies (pp. 904-908). New York, NY: Association for Computing Machinery.
Empowerment in the Public Sector: An Empirical Study of Korean Government Employees, September – 2013, from http://www.irrodl.org/index.php/irrodl/article/view/1498/2628
H.A.R. Tilaar, (2000)  Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Hase, S., & Kenyon, C. (2000). From Andragogy to Heutagogy. ultiBASE, 5(3). Retrieved September 25, 2007, from http://ultibase.rmit.edu.au/Articles/dec00/hase1.pdf
Mann Hyung Hur dan Yeonwook Im (2013). The Influence of E-Learning on Individual and Collective
Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995)Reinventing Education”